Sejarah Uang Kertas Dan Logam Di Dunia

Loading...
Sejarah Uang Kertas Dan Logam Di Dunia tidak dapat dijelaskan secara singkat seperti umur manusia yang hanya sekitaran 80’an tahun saja. Dalam perkembangannya, uang memiliki sejarah yang sangat panjang dan telah mengalami berbagai perubahan yang sangat besar sejak dikenal oleh manusia. Oleh karena itu, uang dipandang telah dapat memainkan peranannya, baik sebagai alat pembayaran yang sah di dalam suatu negara, maupun sebagai bentuk simbol negara yang digunakan sebagai alat pemersatu, atau dapat pula menjadi suatu alat untuk menguasai perekonomian atau penjajahan oleh satu negara kepada negara lainnya.

Dengan perkataan lain, uang dalam kehidupan perekonomian suatu negara memiliki fungsi yang penting dan strategis, dimana uang bukan hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah dalam setiap kegiatan transaksi ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat luas di dalam sebuah negara, namun uang juga dipandang sebagai suatu alat untuk menunjukkan eksistensi atau keberadaan dari suatu negara. 
Sejarah Uang Kertas Dan Logam Di Dunia
Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Walter B. Wrinston, dalam The Twilight of Sovereignty (1996: 6), yang antara lain mengemukakan bahwa salah satu aspek tradisional dari kedaulatan adalah berupa kekuasaan negara untuk mengeluarkan mata uang dan menyatakan nilainya. Walter B. Wrinston memandang mata uang dari aspek politik, dikaitkan dengan kedaulatan suatu negara. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kokohnya kedaulatan suatu negara antara lain dapat diukur dari kuatnya mata uang dari negara yang bersangkutan.

Dalam sejarah, kemunculan mata uang yang memiliki fungsi sebagai alat pertukaran merupakan suatu bentuk respons terhadap timbulnya hambatan atau kendala dalam penerapan sistem barter di masyarakat, dimana pada waktu itu pertukaran barang dengan barang lain secara langsung tanpa menggunakan alat pertukaran, dipandang kurang efektif dalam pelaksanaannya karena membutuhkan tenaga dan waktu yang relatif lama dalam prosesnya, sehingga dalam kenyataannya tidak banyak terjadi transaksi atau kegiatan perdagangan yang mungkin dapat dilakukan apabila sistem barter ini digunakan sebagai satu-satunya cara atau media dalam melakukan kegiatan pertukaran.

Pada sistem barter murni, salah satu hal yang harus dipenuhi sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan lancar adalah adanya suatu keinginan yang sama (double coincidence of wants) diantara masing-masing pihak yang akan menukarkan barang tersebut. Tanpa dilandasi oleh prinsip tersebut, maka dalam prakteknya akan sulit untuk terjadinya suatu transaksi atau kegiatan barter diantara para pihak. Selain itu, dalam kenyataannya untuk menemukan orang-orang yang memiliki keinginan yang sama, sudah barang tentu bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan karena beragamnya jenis kebutuhan dari masing-masing pihak.

Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka penerapan prinsip kesamaan akan keinginan dan kebutuhan pada sistem barter akan menimbulkan hambatan atau kendala bagi setiap manusia dalam memenuhi berbagai macam kebutuhannya yang beraneka ragam dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut di masyarakat, yaitu dengan cara menggunakan barang atau komoditi tertentu yang secara umum dapat diterima sebagai alat pertukaran (medium of exchange), misalnya dengan menggunakan komoditi atau barang-barang hasil pertanian, seperti padi, jagung, gandum.

Penggunaan benda-benda dimaksud, sebagai alat penukar didasarkan pada adanya suatu kesepakatan di antara anggota masyarakat yang menggunakannya pada suatu daerah atau wilayah tertentu. Pada umumnya, benda yang dipergunakan tersebut, selain dapat diterima sebagai alat pembayaran dalam sistem perekonomian yang sangat sederhana tersebut, seringkali juga memiliki kegunaan untuk dikonsumsi atau keperluan produksi.

Menurut pandangan D.H. Robertson, dengan menggunakan barang atau komoditi tertentu tersebut, maka kita dapat mengartikan ”uang” sebagai segala sesuatu yang diterima secara umum sebagai pembayaran untuk benda-benda atau untuk melunasi kewajiban-kewajiban lain yang timbul karena dilaksanakannya sesuatu usaha (bussiness obligation). Dari pemahaman tersebut, Robertson mengambil contoh dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, dimana pada abad ke-sembilan belas minuman berupa bir dibayarkan sebagai upah kepada para buruh pada pertambangan-pertambangan batu bara di negara Inggris. Pada waktu itu, uang (bir) sangat populer dan bersifat sangat likuid (cair) sebagai alat pembayaran. Namun mengingat pada waktu itu bir tersebut dikeluarkan dalam jumlah yang berlebihan, maka di dalam prakteknya menimbulkan kesulitankesulitan yang dialami oleh orang perorangan dalam kaitan dengan penyimpanannya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, tampak bahwa walaupun barang atau komoditi tertentu digunakan secara umum sebagai alat tukar pada suatu wilayah, namun demikian dalam implementasinya masih juga ditemukan adanya hambatan atau kesulitan dalam pelaksanaannya, mengingat pada awalnya benda/barang yang dipergunakan sebagai alat tukar hanya berlaku dalam kelompok masyarakat dengan cakupan wilayah atau daerah tertentu saja. Mengingat bahwa dalam perkembangan selanjutnya, hubungan atau interaksi diantara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain semakin meluas, maka untuk dapat lebih memperlancar kegiatan transaksi pertukaran dan jual beli tersebut, semakin dirasakan perlunya ada benda tertentu yang dapat kiranya digunakan secara praktis, yang sudah barang tentu memiliki peranan sebagai pengganti barang atau komoditas tertentu tersebut.

Dengan memperhatikan keadaan atau kondisi tersebut, selanjutnya masyarakat mulai beralih dengan menggunakan benda-benda seperti logam berharga dan bahan kertas sebagai ”uang”. Seiring dengan penggunaan logam berharga sebagai bahan baku untuk uang, dalam perkembangannya ternyata juga mengalami kondisi yang turun naik sejalan dengan situasi dan kondisi yang ada. Kondisi dimaksud lebih disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: 
  1. Terkait dengan masalah ketersediaan bahan baku logam (emas dan perak) yang jumlahnya relatif terbatas, karena bahan logam dikategorikan sebagai sumber daya alam (berupa tambang) yang tidak dapat diperbaharui.
  2. Mahalnya biaya atau ongkos untuk melakukan kegiatan penambangan terhadap bahan baku logam emas dan perak tersebut. 
  3. Munculnya bahan logam lainnya (substitusi) berupa tembaga yang dapat lebih mudah untuk diperoleh, dan juga dari sisi harga relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan harga untuk logam emas dan perak. 
  4. Makin tingginya minat dari masyarakat untuk menggunakan bahan baku uang dengan kualitas rendah (tembaga) dibandingkan dengan uang dengan kualitas bahan baku yang baik, seperti logam emas dan perak. 
  5. Kesulitan dalam menggunakan logam tersebut apabila dalam kegiatan transaksi dibutuhkan jumlahnya yang relatif besar, khususnya terkait dengan tingginya biaya pengangkutan dan tingginya tingkat resiko (high risk) yang harus ditanggung oleh para pihak khususnya menyangkut bahaya akan kejahatan, berupa perampokan dan pencurian.
Untuk mengatasi keadaan tersebut, dalam perkembangan selanjutnya pemerintah atau lembaga-lembaga swasta mulai menerapkan sistem penyimpanan terhadap sertifikat-sertifikat berharga yang mewakili logam berharga tersebut. Sertifikat tersebut secara prinsip didukung sepenuhnya oleh nilai logam yang disimpan di tempat penyimpanan atau yang kemudian dikenal dengan istilah “bank”. Sejarah mencatat bahwa setelah berakhirnya Perang Dunia ke-II sampai dengan tahun 1971, telah diterapkan suatu sistem standar emas yang didasarkan pada suatu kesepakatan Bretton Woods yang dipelopori oleh Amerika Serikat, yang pada hakekatnya mengaitkan mata uang yang dikeluarkan dan diedarkan di dunia dengan standar emas sebagai back up-nya (Bretton Woods system). Penerapan sistem ini, dilakukan dengan tujuan untuk memberikan garansi kepercayaan kepada masyarakat sehingga diharapkan dengan sistem ini tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang menjadi semakin meningkat karena adanya back up currency dengan emas. Namun demikian, dalam perjalanannya penerapan terhadap sistem ini justru menimbulkan kesulitan, karena untuk dapat menjamin jumlah uang yang beredar di masyarakat dalam jumlah yang relatif besar, sudah barang tentu dibutuhkan cadangan emas dalam jumlah yang besar pula. Oleh karena itu, sejak tahun 1971 praktis seluruh otoritas moneter di dunia menggunakan kembali “uang fiat” (fiat money) sebagai jalan keluar untuk mengatasi permasalahan tersebut, dimana pengeluaran dan pengedaran atas uang fiat tersebut tidak harus didukung dengan ketersediaan cadangan emas dengan nilai penuh. Uang fiat itu sendiri merupakan uang yang dibuat dari bahan yang tidak senilai dengan uang tersebut, dan nilai serta keabsahannya ditentukan oleh otoritas atau lembaga yang berwenang dalam suatu negara. 
Sejarah Uang Kertas Dan Logam Di Dunia

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa uang diakui sebagai tanda setuju, dimana nilai nominal suatu mata uang yang akan lebih besar jika dibandingkan dengan nilai intrinsiknya. Mengingat penciptaan atas fiat money tidak lagi memerlukan jaminan logam mulia, maka sebagai konsekuensinya otoritas moneter akan selalu berupaya untuk mencetak uang yang sesuai dengan kebutuhannya, dengan didasarkan pada kemampuan, kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai otoritas moneter dalam rangka memberikan kontribusi bagi kesinambungan peningkatan perekonomian negara.

Sebagai gambaran singkat, dewasa ini dapat dikatakan bahwa semua mata uang dan koin adalah uang dalam bentuk fiat money atau credit money, termasuk uang kertas dan uang logam rupiah yang beredar di Indonesia. Hubungan antara emas dan supply uang saat ini benar-benar sudah tidak relevan lagi. Nilai suatu mata uang bukan lagi ditentukan dari bahan pembuatan uang, namun ditentukan oleh kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah yang dalam hal ini adalah bank sentral dalam menjaga kestabilan moneter, yaitu keseimbangan permintaan dan penawaran uang di dalam suatu perekonomian. Dengan perkataan lain, jaminan uang jenis tersebut adalah kepercayaan masyarakat. Selanjutnya, timbul pertanyaan bagaimana dapat memelihara tingkat kepercayaan masyarakat terhadap jenis uang tersebut. Salah satu caranya adalah dengan mengendalikan atau membatasi pembentukan dan pencetakan uang. Dalam berbagai literatur moneter, upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap nilai uang jenis ini dilakukan oleh bank sentral dengan cara menjaga keseimbangan jumlah uang beredar sesuai dengan kebutuhan perekonomian.

Kelebihan dari fiat money atau credit money dibandingkan dengan full bodied money adalah adanya penghematan yang diperoleh pemerintah dalam pengadaan uang. Dengan semakin kecil sumber daya negara yang digunakan untuk mengadakan uang, sumber daya tersebut dapat dialokasikan ke kegiatan sosial produktif lainnya. Kelebihan lainnya adalah bahwa jumlah uang beredar direncanakan dan ditentukan oleh manusia, dan tidak tergantung pada penemuan suatu jenis pertambangan seperti emas.
Loading...

2 Responses to "Sejarah Uang Kertas Dan Logam Di Dunia "

  1. Salam Luar biasa, tulisan anda sangat meng-inspirasi, salut!
    Salam Sob:
    Jual Solar Industri Murah,
    Solar Industri Murah berkualitas

    ReplyDelete
  2. MENYEDIAKAN 7 PERMAINAN KARTU TERFAVORIT
    BANDAR Q | DOMINO 99 | ADU Q | BANDAR POKER | POKER |

    CAPSA SUSUN | SAKONG
    GABUNG SEKARANG
    MEMBERIKAN BONUS TERBESAR !!
    - CASHBACK 0.3%
    - REFFERAL 15%
    - JACKPOT !!
    - MINIMAL DEPOSIT & WITHDRAW 20RB
    - BEST SERVER FOR GAMBLING NO ROBOT !
    - PLAYER VS PLAYER
    - FAST PROSES !
    - CS ONLINE 24 JAM
    JuraganQQ

    ReplyDelete

close
Loading...